PERAN MASYARAKAT TERHADAP KESENIAN
Disusun guna memenuhi tugas UAS
Mata Kuliah: Antropologi Budaya dan Agama
Dosen Pengampu: Mas’udi S.Fil.I.,M.A
Disusun Oleh :
Kumari Laila (1640410015)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
JURUSAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM
TAHUN 2018
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Hubungan manusia dengan sekitarnya sehingga menghasilkan interaksi. Dalam kehidupannya manusia menciptakan hubungan untuk menciptakan kebutuhan hidup, karna adanya hubungan inilah manusia dapat menyampaikan maksud, tujuan dan keinginan masing-masing. Sedangkan untuk mendapat suatu hubungan tersebut perlu adanya interaksi atau timbal balik antar kelompok dalam masyarakat. Dari interaksi ini pula masyarakat dapat menghasilkan suatu kebudayaan dalam berbagai bentuk, tradisi, teknologi dan lain-lain.
Oleh karena itu, dalam hal ini pemakalah menjelaskan bagaimana masyarakat masa kini terhadap sebuah kesenian. Untuk mengetahui seberapa besar peran masyarakat dalam bidang kesenian, adat istiadat kebudayaan seni yang mengatur adanya tingkah laku masyarakat tersebut. Dan juga hubungan interaksi terhadap masyarakat berkesenian dengan masyarakat lain. Agar hubungan terhadap sesama masyarakat adanya timbal balik dari interaksi tersebut.
Rumusan Masalah
Bagaimana definisi masyarakat Seni?
Bagaimana Perkembangan kesenian dimasyarakat kudus ?
Bagaimana peran masyarakat terhadap kesenian ?
BAB II
PEMBAHASAN
Definisi Masyarakat Seni
Definisi Masyarakat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti “sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yg mereka anggap sama”. Kata “masyarakat” berakar dari bahasa Arab, musyarakah. Arti yang lebih luasnya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah kelompok atau komunitas yang interdependen atau individu yang saling bergantung antara yang satu dengan lainnya .
Menurut Ralp Linton (dalam Atik Catur Budiati, 2009: 13). Berpendapat bahwa masyarakat merupakan setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja sama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas- batas yang dirumuskan dengan jelas.
Menurut Roucek dan Waren (dalam Lusdio Slamet Santosa, 2007: 144), berpendapat bahwa masyarakat adalah sekelompok manusia yang memeliki rasa kesadaran bersama, mereka berdiam ( bertempat tinggal) dalam daerah yang sama, sebagian besar atau seluruh warganya memperliahatkan adanya adat kebiasaaan serta aktifitas yang sama pula.
Suatu kesatuan manusia dapat menjadi suatu masyrkat harus memeliki ikatan yang khusus yaitu adat–istiadat yang khas, ciri-ciri masyarakat antara lain sebgai berikut:
Ada interaksi sosial antara warga masyarakat
Ada rasa identitas yang kuat dan mengikat semua warga.
Ada ikatan yang kas seperti norma adat-istiadat.
Ada pola-pola prilaku yang berkesinambungan.
Terdapat beberapa faktor-faktor penyebab terbentuknya suatu masyarakat yaitu:
Keinginan untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti sandang, papan, pangan. Maka untuk memenuhi kebutuhan ini melalui kerja sama antar kelompok.
Keinginan untuk bersatu dengan masyarakat lainnya dalam memenuhi berbagai kebutuhan lainnya
Keinginan untuk bersatu dengan lingkungan sekitarnya agar terciptanya masyarakakat sejahtera.
Keinginan untuk mengembangkan keturunannya melalui keluarga yang merupakan kesatuan masyarakat kecil.
Kecenderungan social mereka dapat dilihat dari tingkah laku yang berkembang dalam interaksi terhadap sesame manusia.
Dapat dilihat dari beberapa defenisi diatas, maka masyarakat timbul dari setiap kumpulan individu yang telah cukup lama dalam kelompok, yang belum terorganisasi mengalami proses yang fundamental yaitu adaptasi dan organisasi dari tingkah laku para individu dan kemudian timbulnya perasaan kelompok. Dari hal ini, dapat diuraikan bahwa masyarakat dapat mempunyai arti luas dan arti sempit. Dalam arti luas bahwa masyarakat yang dimaksud adalah keseluruhan hubungan dalam hidup bersama tidak dibatasi oleh lingkungan, bangsa dan lain sebagainya. Atau dengan kata lain arti kebulatan dari sebuah hubungan dalam hidup masyarakat. Sedangkan dalam arti sempit, masyarakat adalah kelompok manusia yang dibatasi oleh aspek-aspek tertentu, misalanya; teritorial, bangsa, golongan dan lain sebagainya.
Menurut KBBI Seni memiliki beberapa definisi, yaitu:
Halus (tentang rabaan); kecil dan halus; tipis dan halus
Lembut dan tinggi (tentang suara)
Mungil dan elok (tentang badan)
Seni adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan karya cipta yang dihasilkan oleh unsur rasa. Seni bisa dilihat dari ekspresi dari kreativitas manusia. Seni juga salah satu unsur kebudayaan yang tumbuh dan berkembang sejajar dengan perkembangan manusia selaku pengubah dan sebagai penikmat seni, seperti musik, teater, tari, desain, cerita, puisi, lagu, lukisan, patung, dan foto juga merupakan bentuk – bentuk penting dalam komunikasi di tiap masyarakat. Seni dapat menyampaikan perasaan – perasaan terdalam kepada kita, seni dapat memberi kenikmatan, seni dapat menemani kita di kala berduka, seni dapat menghibur, seni seringkali digunakan untuk memikat atau meyakinkan kita dengan macam cara. Seni memiliki nilai estetis (indah) yang disukai oleh manusia dan mengandung ide-ide yang dinyatakan dalam bentuk aktivitas. Cara mengekspresikan seni bisa menggunakan berbagai media. Kesenian memiliki banyak jenis dilihat dari cara/media antara lain seni suara (vokal), lukis, tari, drama, dan patung.
Seni adalah salah satu ekspresi perasaan manusia sebagai kebutuhan yang berkembang sesuai dengan perkembangan kehidupan manusia itu sendiri dan lingkungan sekitarnya.
Herbert Read mendefinisikan seni sebagai penciptaan bentuk-bentuk yang menyenangkan, dimana kesenangan yang dimaksud dalam hal ini adalah kesenangan estetika.
Menurut soedarso seni dapat dibagi menjadi dua bagian besar yaitu seni yang murni estetik, contohnya sebuah lukisan, pelukis dapat mengekspresikan melalui lukisan hasil karya nya, lalu konsumen dapat menilai bagaimana dalam penggunaannya. Dan seni terapan yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan lain, contohnya sebuah kursi, dimana kursi memiliki berbagai bentuk variasi, bentuk ukuran dan fungsinya.
Keindahan memiliki arti bagus, permai, cantik, elok, molek dan sebagainya. Benda yang memiliki sifat indah ialah hasil seni, (meskipun tidak semua hasil seni itu indah), seperti pemandangan alam (pantai, pegunungan, danau, bunga-bunga dan lereng gunung), manusia (wajah, mata, bibir, hidung, rambut, kaki, tubuh), rumah (halaman, tatanan, perabot rumah tangga, dan sebagainya) suara, warna dan sebagainya.1 Menurut asal katanya, “keindahan” dalam bahasa Inggris: beautiful, dalam bahasa Perancis beau, sedang Italia dan Spanyol bello yang berasal dari kata Latin bellum. Akar katanya adalah bonum yang berarti kebaikan, kemudian mempunyai bentuk pengecilan menjadi bonellum dan terakhir dipendekkan sehingga ditulis bellum.
Menurut cakupannya orang harus membedakan antara keindahan sebagai suatu kualitas abstrak dan sebagai sebuah benda tertentu yang indah (the beautiful). Untuk perbedaan ini dalam bahasa Inggris sering dipergunakan istilah beauty (kendahan) dan the beautifull (benda atau hal yang indah). Dalam pembahasan filsafat, kedua pengertian itu kadang-kadang dicampur adukkan.
Selain itu terdapat pula perbedaan menurut luasnya pengertian yaitu:
Keindahan dalam Arti yang Luas. Keindahan dalam arti yang luas, merupakan pengertian semula dari bangsa Yunani, yang di dalamnya tercakup pula ide kebaikan. Plato misalnya menyebut tentang watak yang indah dan hukum yang indah, sedang Aristoteles merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang selain baik juga menyenangkan. Platino menulis tentang ilmu yang indah dan kebajikan yang indah. Orang Yunani dulu berbicara pula mengenai buah pikiran yang indah dan adat kebiasaan yang indah.
Tapi bangsa Yunani juga mengenal pengertian keindahan dalam arti estetis yang disebutnya symmetria untuk keindahan berdasarkan penglihatan (misalnya pada karya pahat dan arsitektur) dan harmonia, untuk keindahan berdasarkan pendengaran (musik). Pengertian keindahan yang seluas-luasnya meliputi: keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral, keindahan intelektual.
Menurut The Liang Gie, sebagaimana yang dikutip Surajiyo, keindahan dalam arti yang luas, mengandung pengertian ide kebaikan, watak, hukum, pikiran, pendapat, dan sebagainya.
Keindahan dalam Arti Estetis Murni. Keindahan dalam arti estetis murni, menyangkut pengalaman estetis dari seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang dicerapnya.
Keindahan dalam Arti Terbatas dalam hubungannya dengan Penglihatan. Di sini lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut benda-benda yang diserap dengan penglihatan, yakni berupa keindahan dari bentuk dan warna secara kasat mata
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa masyarakat seni ialah sekumpulan individu yang memiliki kesenian dibidangnya. Bisa dikatakan masyarakat ini memiliki jiwa dalam berkesenian tinggi, kesenian dalam hal apapun.
Perkembangan Kesenian dimasyarakat Kudus
Penanaman pola fikir baru ini pada masa transisi di era Orde Baru mengalami ketidakseimbangan ketika muatan rasionalitas dalam kurikulum pendidikan nasional Indonesia demikian tingginya, sehingga muatan yang mengolah rasa, keterampilan, kreativitas dan budi pekerti kurang diperhatikan. Ketidakseimbangan ini di kemudian hari menjadi bagian dari proses ‘pembusukan’ nilai dan kebudayaan nasional.
Dalam kehidupan social kita tidak lepas dari kesenian. Segala sesuatuyang memiliki nilai estetika bisa dikatakan sebagai seni. Namun dalam hal ini, pandangan masyarakat awam terhadap seni pertunjukkan, seperti Teater, tari, drama, music, dan lain sebagainya. Karna masyarakat sekarang tidak terlalu menghiraukan maksud dari pertunjukan yang ditampilkan, yang sekiranya menarik itulah yang bisa dibilang bagus.
Pemerintah Kabupaten Kudus memiliki kekayaan budaya kesenian yang didokumetasi menjadi database, tradisi dan adat istiadat yang meliputi data gedung kesenian, lembaga kesenian, organisasi kesenian, seniman, organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan yang maha Esa, upacara tradisional, permainan anak/rakyat, ceritera rakyat/nama asal usul tempat dan warisan budaya dan dokumentasi kegiatan pelestarian pengembangan kesenian tradisi dan budaya.
Seni sebagai ungkapan nilai, terbit dari sikap penghargaan. Ia tidak hanya mencerminkan keadaan sekedar apa adanya tanpa warna; tetapi memilih, mengurangi dan mempertajam. Seiring dengan kemajuan jaman, tradisi dan budaya yang pada awalnya dipegang teguh, dipelihara dan dijaga keberadaannya, kini hampir tinggal cerita. Kebanyakan masyarakat memilih untuk mengedepankan dan daerahnya sendiri yang sesungguhnya justru budaya daerah atau budaya lokal yang sangat sesuai dengan kepribadian bangsanya.
Salah satu contoh kesenian pada budaya kudus. Dimana kota kudus ini banyak sekali kesenian-kesenian yang mulai tampak kembali. Seperti hal nya keteateran, banyak sekali komunitas teater dikudus, dan juga teater kampus. Ditambah pendatang dari luar kota yang datang ke kota kudus untuk mementaskan teaternya dikota kudus. Komunitas kesenian kudus selalu hadir ditengah-tengah masyarakat setiap kali nya. Salah satunya adalah Fasbuk atau disebut juga Forum Apresiasi Seni dan Budaya Kudus, disinilah komunitas-komunitas kesenian dapat menampilkan karya nya setiap sebulan sekali.
Kemudian kesenian tari, tidak hanya teater, sanggar tari juga banyak sekali yang aktif dan selalu memberikan kreasi-kreasi keindahan gerakan tubuh. Salah satu tari sebagai ciri khas kota kudus ialah Tari Kretek. Terciptanya tari kretek tidak lepas dari Museum Kretek yang didalamnya terdapat sejarah-sejarah tentang rokok kretek. Perkembangan tari kretek tidak lepas dari pemerintah setempat dan masyarakat kudus yang mencintai kesenian.
Tari kretek merupakan jenis tarian tunggal yang dapat dipentaskan secara masal. Tarian ini pernah melibatkan sekitar 500 orang penari putrid pada saat peresmian Museum Kretek yang ada dikota kudus. Seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi tari kretek juga mengalami perkembangan, namun tidak menghilangkan makna dari tari tersebut. Hal ini dilakukan oleh Ibu Endang Tonny selaku pencipta tarian ini lebih menarik.
Bentuk penyajian tari kretek termasuk jenis tari kreasi dengan tema aktivitas kehidupan manusia yang bekerja dipabrik rokok yang pada akhirnya salah satukesenia cirri khas daerah kudus.
Bentuk gerak tari kretek secara garis besar dikelompokkan menjadi tiga bagian gerakan pembuka, gerakan pokok dan gerakan penutup. Gerakan pembuka menggambarkan para pekerja wanita datang menuju pabrik. Gerakan pokok menggambarkan para pekerja wanita membuat rokok kretek melalui beberapa tahap mulai mengambil bahan dan peralatan pembuatan rokok kretek, meletakkan tembakau ditempat penggilingan, istirahat sejenak sambil menggoda mandor sampai nmemasukkan bungkusan rokok ke dalam kardus dan siap dipasarkan. Gerakan penutup menggambarkan para pekerja wanita memasarkan rokok kretek sambil berjalan meninggalkan pabrik.
Kesenian lain dikudus yaitu Kesenian Barongan, sebagai kesenian tradisional daerah Kudus memiliki ciri khas yang membedakan dengan kesenian lainnya terutama dalam hal busana, gerak serta iringan musiknya. Bentuk dan gerak tari Barongan bersifat bebas dan spontanitas mengikuti irama musik pengiringnya. Barongan berawal dari kata “Barong” mendapat akhiran “an” yang berarti suatu bentuk atau rupa yang menirukan Barong. Kata “Barong” baik di Bali maupun di Jawa merupakan nama 12 untuk menyebut binatang mitologi berkaki empat. gerak serta iringan musiknya. Bentuk dan gerak tari Barongan bersifat bebas dan spontanitas mengikuti irama musik pengiringnya. Barongan berawal dari kata “Barong” mendapat akhiran “an” yang berarti suatu bentuk atau rupa yang menirukan Barong. Kata “Barong” baik di Bali maupun di Jawa merupakan nama 12 untuk menyebut binatang mitologi berkaki empat. Daerah Kudus “Barongan” yang di maksud adalah gabungan dari dua hewan yang saling bermusuhan yaitu antara burung merak, macan yang akan memangsa buto. Tokoh Barongan dalam kesenian Barongan ini di gambarkan dengan topeng kayu berbentuk kepala macan, mahkota burung merak, matanya besar seperti mata buto.
Kemudian seni music, Musik adalah bunyi yang diterima oleh individu dan berbeda-beda berdasarkan sejarah, lokasi, budaya dan selera seseorang. Definisi tentang music juga bermacam-macam:
Bunyi yang dianggap enak oleh pendengarnya Segala bunyi yang dihasilkan secara sengaja oleh seseorang atau kumpulan dan disajikan sebagai musik. Beberapa orang menganggap musik tidak berwujud sama sekali. Musik menurut Aristoteles mempunyai kemampuan mendamaikan hati yang gundah, mempunyai terapi rekreatif dan menumbuhkan jiwa patriotisme. Musik adalah bunyi yang diterima oleh individu dan berbedabeda berdasarkan sejarah, lokasi, budaya dan selera seseorang.
Bunyi yang dianggap enak oleh pendengarnya
Segala bunyi yang dihasilkan secara sengaja oleh seseorang atau kumpulan dan disajikan sebagai music
Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Musik adalah nada atau suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu dan keharmonisan (terutama yang menggunakan alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi).
Perkembangan musik di Indonesia terbagi dalam beberapa periode, diantaranya adalah periode sebelum tahun 70-an, era tahun 70-an, era 80-an, era 90-an, dan era 2000. Pada tahun sebelum era 70-an, musik Indonesia lebih banyak mengambil tema perjuangan, keberanian, semangat dan kebangsaan. Tema-tema heroic macam ini tentu saja berkaitan dengan kondisi Indonesia saat itu yang sedang melakukan perjuangan melawan Belanda dan Jepang.
Dengan musik-musik bertemakan tersebut pencipta musik pada masa itu berusaha untuk membangkitkan semangat bangsa Indonesia untuk melawan penjajah. Pada tahun 70-an musik Indonesia banyak menerima pengaruh dari music pop manca negara. kelompok musik yang paling terkenal adalah Koesplus, banyak lagu mereka yang masih digemari hingga sekarang, salah satunya lagu berjudul “why do you love me”. pada masa inilah pop pertama kali muncul di Indonesia.Musik tanah air terus mengalami perubahan lagi di era 80-an, tidak lepas dari perkembangan musik, musik pop pada masa ini juga mengalami perubahan yaitu lebih cenderung bertempo lambat dan berkesan cengeng. Namun lagu-lagu itu tetap menjadi bunga di tahun tersebut, Rinto Harahap, Pance pondaaq, Aryanto, dan Obbie Mesakh adalah nama-nama pencipta lagu yang cukup produktif
di era ini.
Peranan Masyarakat Kudus Terhadap Kesenian
Menurut KBBI peran merupakan tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu peristiwa. Menurut Ahmadi (2007:106), peranan adalah suatu kompleks pengharapan manusia terhadap caranya individu harus bersikap dan berbuat dalam situasi tertentu berdasarkan status dan fungsi sosialnya. Menurut Rahadinta (2011:8), Peranan merupakan sejauh mana fungsi seseorang atau bagian dalam penunjang usaha pencapaian tujuan yang ditetapkan atau ukuran mengenai hubungan dua variable yang mempunyai hubungan sebab akibat.
Berdasarkan dari pengertian tersebut dapat kita simpulkan bahwa perananyaitu sejauh mana fungsi seseorang atau bagian dalam menunjang pencapaian tujuan yang ditetapkan sebagai hubungan sebab akibat.
Kota kudus memiliki kesenian yang sangat banyak, dalam hal ini masyarakat kota kudus sangat antusias dalam acara-acara pagelaran kesenian. Karna ini dapat menunjang kreativitas masyarakat kudus, agar tetap berkarya dan berkesenian. Masyarakat kota kudus sangat menjaga budaya untuk kelestarian kesenian agar kesenian dalam diri mereka tidak luntur. Karna bagi masyarakat kudus kesenian adalah jiwa mereka. Maka dari itu masyarakat kudus ikut berperan andil dalam kegiatan kesenian apapun.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Masyarakat adalah sekelompok manusia yang saling berinteraksi, dan terikat dalam suatu peraturan undang-undang atau norma-norma. Seni adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan karya cipta yang dihasilkan oleh unsur rasa. Seni bisa dilihat dari ekspresi dari kreativitas manusia. Perkembangan kesenian dikota kudus semakin pesat dan peran masyarakat terhadap kesenian dikota kudus sangat antusias dan ikut andil dalam kegiatan acara kesenian apapun.
DAFTAR PUSTAKA
Suwari Akhmaddhian dan Anthon Fathanudien, Partisipasi Masyarakat Dalam Mewujudkan Kuningan Sebagai Kabupaten Konservasi (Studi Di Kabupaten Kuningan), Jurnal Unifikasi, ISSN 2354-5976 Vol. 2 No. 1, 2015,
http://eprints.ung.ac.id/284/3/2013-2-87201-231409027-bab2-09012014032625.pdf , diakses pada tanggal 8 oktober 2018
Murtadha Muntahhari, Masyarakat Dan Sejarah, Bandung, Mizan,
Siti Gazalba, Pandangan Islam tentang kesenian, Jakarta, Bulan Bintang, 1977,
Koentjoronoingrat, Beberapa Pokok Antropologi Sosial, Jakarta: Dian Rakyat,1990,
Soedarso Sp, Tinjauan Seni: Sebuah Pengantar untuk Apresiasi Seni, Yogyakarta, Saku Dayar Sana, 1987,
Rytma Sindara, Tari Kretek Sebagai Tari Identitas Budaya Kabupaten Kudus Jawa Tengah, http://eprints.uny.ac.id/27661/1/Rytma%20Sindara%2008209241042.pdf, diakses pada tanggal 2 November 2018
Sri Handayani, Upaya Pelestarian Eksistensi Kesenian Barongan Setyo Budoyo Didesa Loram Wetan Kecamatan Jati Kabupaten Kudus, https://lib.unnes.ac.id/22019/1/2501914008-S.pdf, diakses pada tanggal 2 Desember 2018
